Game Over


Pendidikan di pesantren dapat diselesaikan selama 4/6 tahun. Kehidupan pesantren layaknya bermain game, kita pertama kali masuk dan beradaptasi dengan lingkungan pesantren itu terkadang terasa sulit, namun itu hanyalah level awal dari sebuah permainan. Di level awal ini kita bakalan menemukan problematika tidak kerasan hidup di pesantren, merasa malu berkenalan dengan teman baru, menemukan pelajaran baru yang berbeda dengan pelajaran sekolah sebelumnya. Level awal bisa diselesaikan dengan bersabar dan dukungan dari kedua orang tua serta guru-guru yang tidak kenal lelah memberikan motivasi di kelas. Level awal telah diselesaikan, level baru akan terasa lebih sulit.
Level kedua kita telah mengenal banyak teman. Bahkan kita telah mempunyai teman yang kita anggap sebagai best friend, makan bersama, ke kelas bersama, ke masjid bersama, hingga tidur bersama. Cobaan di level kedua ini masih tidak kerasan di pondok. Namun, berbeda dengan tidak kerasan pada level awal, pada level kedua ini tidak kerasan di sebabkan teman yang jahil, serta senioritas dari kakak kelas. Level kedua bisa teratasi mudah dengan banyak mencari teman yang kita anggap baik dan tidak terlalu banyak bertingkah agar tidak mudah menjadi korban senioritas.
Menjalani level ketiga, teman telah banyak kita kenal. Tidak kerasan bukanlah masalah utama pada level ini. Pada level ketiga banyak ke labilan yang kita hadapi, labil dalam menentukan sikap, labil ingin merasakan sesuata yang belum dirasakan, serta labil dalam menentukan kelanjutan di pondok. Banyak yang gugur dalam level ini. Mereka yang bertahan adalah orang-orang yang terpilih untuk melanjutkan game ini hingga tamat.
Level keempat, polapikir sudah mulai terbentuk dengan rapi. mimpi telah terbayangkan tinggi hingga langit yang tak berbintang. Belajar semakin rajin untuk menggapai cita-cita, untuk merealisasikan mimpi seperti cerita alumni yang telah sukses di luar. Pahit manis berorganisasi telah dirasakan saat menjadi panitia pergarus. Kemanisan tersebut tidak selalu manis dirasakan, cobaan pasti selalu ada. Pada level ini kita menghadapi senioritas dari pengurus, melanggar pada level ini sanksi yang akan diberikan tentu lebih berat dari pada adik-adik kelasnya. Memang masuk akal jika kita melanggar peraturan, itu bukanlah sesuatu ketidak tahuan akan berdisiplin. Di level keempat ini kita harus banyak-banyak bermusyawarah dengan pengurus, agar tidak terjadi bentrokan atau kesalah pahaman diantara pengurus dan pemain di level ini.
Level kelima, Jabatan kepengurusan dan pengalaman berorganisasi mulai di dapatkan di level ini. Susahnya mengurus anggota terkadang menjadi kendala, bingung dalam memberikan sanksi menjadi sebuah dilema para pemain di level ini. Terkadang merasa aneh dengan pemberian anggaran yang di berikan pembimbing pengurus, mungkin mereka takut jika dibelikan anggaran tidak akan dijaga atau mungkin anggaran yang diajukan pengurus tidak masuk akal dan tergolong tidak perlu. Banyak cerita atau menjadi kenangan para anggota di level ini. agar dapat terjalankan dengan mudah pada level ini, kita hanya perlu bersabar menjalankan amanah, dan menerima apa adanya segala ketentuan dari mejelis guru.
Level keenam, level terakhir dari sebuah game ini. pengalaman berorganisasi sudah didapatkan, mimpi di depan mata, rasa malaspun makin menjadi. Banyak kegiatan yang harus dikerjakan untuk mengakhiri game ini, rasa capek terkadang datang dengan padatnya kegiatan. Tugas akhir yang terkadang ditolak karena tidak sesuai dengan ketentuan ditambah perasaan bingung dalam menentukan tujan masa depan, menjadi sebuah catatan akhir dalam game ini. permainan pun segera berakhir ketika ujian terakhir telah dilaksanakan. Yang harus kita lakukan pada level ini hanyalah sabar dan taat akan peraturan pondok niscaya kita akan tenang dalam menjalankan tugas dan kegiatan akhir.
Realitas kehidupan pondok memang seperti bermain game, level awal akan dilihat mudah jika kita telah melewati level yang lebih tinggi. Game Over, menjadi sebuah akhir ketika kita berkumpul di basement masjid menyanyikan hymne diakhiri prosesi wisuda oleh pimpinan pesanten. Game ini bukanlah akhir dari segalanya, namun game ini adalah bekal untuk kita dalam menjalankan kehidupan yang panjang.



Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
0 Komentar